Rabu, 08 Juli 2009

Nasabah “Pesugihan” Bank Ghaib Dewi Lanjar

Pantai Slamaran, tepatnya di disebelah timur Pantai Pasir Kencana hanya dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP), merupakan tujuan wisata lokal yang air laut serta pasirnya bersih. Karena itu tidak heran jika di hari-hari libur banyak pelancong yang datang untuk sekedar menikmati keindahan alam, kesejukan angin dan air lautnya yang jernih. Namun, dibalik keindahan tempat ini tersimpan sebuah misteri berupa keraton siluman jagad lelembut penguasa pantai utara yang sering di datangi orang untuk tujuan mencari kekayaan kesuksesan duniawi dengan jalan pintas pada hari-hari atau pasaran tertentu.

Di sana, mereka di sediakan rumah persewaan berupa gubuk reot dengan sebuah bilik dari bambu tanpa kamar milik kuncen (juru kunci) untuk tempat pembimbingan tentang persyaratan dan tata cara ritual.

Untuk berinteraksi dengan Dewi Lanjar tidaklah sulit. Asalkan semua persyaratan sudah terpenuhi, hanya dengan membaca surat Al-ikhlash 41 kali sebagai mahar, lalu tidur malang di pintu, dengan keyakinan penuh pada tengah malam akan didatangi Nyi Lanjar untuk memberikan pinjaman dana gaibnya Dewi Lanjar.

Setelah perjanjian “maut” disepakati, peziarah akan memperoleh kekayaan “semu” dari hasil ritual “pesugihan” penggandaan uang yang bernama pesugihan Dewi Lanjar Kembar Sewu dengan taruhan mengorbankan nyawanya sendiri atau anggota keluarganya.

Biasanya orang yang sudah habis masa jatuh temponya, pada pintu rumahnya secara misterius akan muncul tanda silang (X) yang di barengi dengan adanya suara lolongan anjing liar dan burung gagak yang terbang diatas rumahnya. Di daerah Banjarnegara, Batang, Pekalongan hingga Tegal, sudah banyak orang yang memergoki fenomena aneh tersebut. Yaitu selalu muncul sebuah kereta kuda dengan dua pengawal berpakaian ningrat khas jawa berhenti dan turun memasuki rumah yang bertanda silang. Esok paginya salah satu penghuni dari rumah tersebut sudah kedapatan mati secara tidak wajar (tanpa sakit atau secara mendadak)

Konon, menurut penuturan orang-orang yang pernah “di ajak” ke alam atau keraton Dewi Lanjar untuk sengaja di perlihatkan situasi alamnya, apabila perjanjian sudah habis masa waktunya, jiwanya akan di ambil oleh pengawal nyi Lanjar untuk dijadikan budak siluman. Di sana, orang-orang semacam ini di paksa mengabdi, ada yang dijadikan bantalan jalan, jembatan atau di siksa hingga merintih-rintih minta pertolongan sampai waktu yang tidak di tentukan (mungkin hingga hari kiamat-red).

Ironis sekali, orang-orang semacam ini telah tertipu oleh janji-janji manis yang berujung sesat dari bangsa jin Mereka telah dijebak untuk masuk kelingkarannya, yang kemudian percaya dan mengabdi kepada bangsa jin.

Terminologi ghaib
Sebagai orang mukmin, kita wajib beriman terhadap adanya satu jenis makhluq Allah yang disebut jin, yang sifatnya ghaib dan hidup di alamnya sendiri. Karena itu kita hanya bisa dan boleh mengambil informasi yang benar tentangnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah saja. Didalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat yang menegaskan hal tersebut. Bahkan terdapat satu surat yang seluruh ayat-ayatnya berbicara tentang jin, sehingga dinamai Surat Al-Jinn (Surat ke-72).

Namun di sini, pengertian mereka tentang terminologi ghaib hanya sebatas masalah jin semata. Dan fatalnya lagi, masalah alam jinpun ternyata telah dipahami dengan pemahaman yang menyimpang, sesat dan menyesatkan dengan tidak didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, melainkan justru disandarkan pada sumber-sumber yang tidak benar yang sudah di setting oleh campur tangan jin dalam kehidupan manusia yang masih rapuh imannya.

Dampaknya, mereka mudah percaya hingga menuhankan bangsa jin yang berujud Dewi Lanjar untuk tempat meminta, memohon atau sebagai sandaran hidup. Mereka tidak sadar bahwa di balik pemberian kekayaan, kemewahan dan kenikmatan sesaat akan berakibat kerugian yang sangat-sangat besar tidak hanya di dunia, tapi juga di neraka selama-lamanya.

Jin, Iblis, dan Syetan
Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalimdalam (QS Al-Kahfi 50 )

Dari sini sudah jelas bahwa, Iblis beserta keturunannya (golongan bangsa jin termasuk Dewi Lanjar), sejak pembangkangannya atas perintah Allah untuk bersujud kepada Adam, ditetapkan oleh Allah menjadi makhluq terlaknat yang tidak akan pernah lagi beriman. Kenapa masih di sembah, dimintai pertolongan bahkan untuk sandaran hidup. (Imm)



Siluman Penguasa Pantai Utara



Kebanyakan dari masyarakat tanah Jawa khususnya pesisir pantai utara pasti kenal dengan ratu siluman penguasa laut utara, Dewi Lanjar. Hingga sampai sekarangpun namanya masih melegenda dan berpengaruh terutama di wilayah Pekalongan, Batang hingga Banajrnegara.

Konon menurut cerita rakyat yang tidak tentu kebenarannya, Dewi Lanjar semula bernama Dewi Rara Kuning yang di tinggal mati suaminya ketika masih pengantin baru, karena itu dinamakan Dewi Lanjar (lanjar berarti janda kembang). Karena hidupnya merana ia memutuskan untuk pergi keselatan menghadap dan memohon Ratu Kidul (Penguasa Pantai Selatan) dengan cara bertapa hingga raganya moksa (lenyap). Pada suatu hari ruh Dewi Lanjar bersama jin - jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiren (kini letaknya disekitar jembatan anim Pekalongan dan desa Sorogenen) tetapi karena kesaktian Raden Bahu, semua godaan Dewi Lanjar dan jin - jin dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahu. Karena Dewi Lanjar gagal maka memutuskan tidak kembali ke Pantai Selatan, dan memohon ijin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal dan mendirikan istana siluman di Pekalongan dengan pengawal dua wanita cantik Sri Lorensa dan Sri Lopaka.

Konon letak keraton Dewi Lanjar dipantai Pekalongan disebelah sungai Slamaran. Suasana keraton hampir mirip dengan kehidupan alam manusia. Menurut Drs Subiyanto selaku kabag Humas Pemkab Pekalongan ketika di temui Furqon di kantornya menuturkan, bahwa disitu juga ada yang membatik, nelayan hingga trandsaksi jual beli di pasar yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja. Untuk memikat manusia pemalas dan tidak beriman, dengan aura kecaantikan, kharisma serta kelembutan nada bicaranya, Dewi Lanjar “membuka” Bank Ghaib dengan agunan nyawa manusia untuk dijadikan tumbal sebagi abdinya.(**)

1 komentar: